Olah Raga

Franco Baresi, Il Bandiera Sakral

Posted on May 20, 2010. Filed under: Olah Raga | Tags: , , |

Franco Baresi saat masih muda dan sudah menjadi andalan AC Milan.

MILAN adalah Franco Baresi. Demikian pula sebaliknya. Pameo itu bertahan di San Siro selama hampir 20 tahun karier Franco Baresi di AC Milan sejak 1978-1997. Tak ada yang meragukannya. Tanpa Baresi, Milan seperti tidak utuh. Sebab, dia adalah pemimpin, inspirator, penjaga, sekaligus bangunan wibawa klub tersebut.

Itulah Baresi, legenda Milan yang baru-baru ini datang ke Jakarta. Selama kariernya, Baresi telah menjadi simbol AC Milan. Dia merupakan roh klub tersebut. Orang Italia menyebutnya il bandeira. Defender yang tak hanya menjadi pilar pertahanan AC Milan, tapi juga keseluruhan permainan tim.

Wajar jika pada partai terakhirnya bersama Milan pada 1997, ribuan tifosi I Rossoneri menangisinya. Seolah, mereka telah kehilangan segala kekuatannya. Baresi pun tak sanggup menahan haru.

“Seandainya bisa, aku ingin tetap muda lebih lama. Tapi aku sudah tua dan saatnya harus memberi tempat buat yang lebih muda. Toh, aku tidak meninggalkan Milan dan tetap bersama kalian,” kata Baresi yang saat itu langsung diangkat sebagai Wakil Presiden AC Milan.

Bersama Baresi, Milan memang telah mengeruk banyak kebesaran. Selain mendominasi Liga Serie-A, geng Giuseppe Meazza ini juga menguasai kompetisi Eropa. Tiga kali menjuarai Liga Champions, puls dua gelar Piala Interkontinental.

Sosoknya dianggap sakral dan tak tergantikan. Il Capitano, demikian dia disebut tifosi Milan. Dia sudah menjadi kapten sejak umur 22 dan begitu seterusnya sampai masa pensiun. Kepemimpinan panjang yang penuh kesan. Bagi mereka, sebutan Il Capitano sama halnya dengan “kamerad” buat seorang pemimpin negeri. Nomor punggungnya yang bernomor 6 pun disakrakalkan dan diabadikan.

“Nomor itu tak akan pernah dipakai pemain mana pun di Milan, karena sudah menjadi milik Franco Baresi. Dan, rasanya tak akan pernah ada lagi pemain seperti dia. Pemain yang begitu berjasa buat klub ini,” kata Presiden AC Milan, Silvio Berlusconi.

Itu juga karena dedikasinya kepada klub begitu besar. Sejak masuk Milan, Baresi tak pernah melirik rumput klub lain. Baginya, Milan sudah menajdi bagian dari hidupnya. Dia begitu mencintai klub itu.

Padahal, godaan kepadanya begitu besar. Sebagai pemain yang dinilai defender terbaik saat itu, banyak klub yang membutuhkan pelayanannya. Namun, Baresi tak pernah tergoda. Sebab, semangat dan jiwanya berada di San Siro. Selain kehebatan permainan, kewibawaan, dan prestasi yang dia berikan, dedikasi serta kesetiaannya membuat sosoknya semakin sakral.

“Uang tidak akan pernah bisa menggantikan kesetiaan dan cinta. Aku tidak pernah berpikir pindah ke mana pun, meski ditawari gelimang kemewahan. Akan lebih memuaskan jika aku bisa mengakhiri karier di Milan,” katanya pada 1994, seusai membawa Milan juara Liga Champions.

DISAMAKAN BECKENBAUER

Young Franco Baresi

Franz Beckenbauer

Sebagai defender, kemampuan Baresi memang luar biasa. Dia punya kecepatan, kekuatan, juga kecerdasan dalam membaca permainan. Selain itu, dia juga tenang dan berwibawa. Tak hanya teman-temannya yang hormat kepadanya, tapi juga para lawan. Faktor-faktor itu masih didukung keberanian yang besar, juga teknik yang tinggi.

“Dia defender terbaik dunia. Di masanya, tak ada pemain belakang yang bisa menandinginya. Kemampuannya bersaing dengan Franz Beckenbauer (defender Jerman, Red),” puji Giancarlo Rinaldi, pengamat sepak bola Italia.

Kebetulan, kedua legenda itu sama-sama punya inisial FB. Lagi pula, dalam bahasa sehari-hari Italia, Franco sering diucapkan dengan Franz atau Frank. Namun, bukan lantaran kebetulan itu yang membuat Baresi disamakan dengan Beckenbauer. Pemain asal Brescia ini memang memiliki gaya dan kualitas permainan yang sama dengan Beckenbauer.

“Saya kira, memang hanya dua defender yang begitu melegenda dan memiliki kewibawaan serta rekor yang hebat. Mereka adalah Beckenbauer dan Baresi. Keduanya punya kualitas yang setara,” puji Arrigo Sacchi yang pernah melatih Baresi di Milan.

Yang membedakan dari keduanya soal prestasi di timnyas. Beckenbauer begitu menonjol dan pernah membawa Jerman juara Piala Dunia 1974 sebagai pemain. Sementara Baresi belum sekali pun. Ketika Italia juara Piala Dunia 1982, dia hanya menajdi pemain cadangan dan tak pernah sekali pun bermain.

Di posisi bek tengah, nama Gaetano Scirea masih terlalu kuat. Pelatih Italia saat itu, Enzo bearzot mengatakan, “Baresi baru 22 tahun dan dia masih punya banyak wakt,” katanya.

Sayang, waktu yang dilaklui Baresi bersama Gli Azzurri kurang sukses. Dia hanya bisa membawa Italia berada di urutan ke-3 Piala Dunia 1990 dan runner-up di Piala Dunia 1994.

Meski begitu, kegagalan itu tak melunturkan kehebatannya. Sebagai kapten, dia tetap sosok berwibawa dan mampu mengatur tim dengan baik. Sebagai defender, dia benteng yang sulit ditembus. Sebagai tokoh, dia begitu menonjol hingga disebut Il bandiera. Ya, dia memang simbol sakral I Rossoneri yang sulit dicari penggantinya. (HPR)

Fakta Baresi
Nama lengkap: Franco Baresi
Julukan: Il Capitano, Piscinin
Lahir: Travagliato, Brescia (Italia), 8 Mei 1960
Posisi: Defender
Nomor kostum: 6
Karier klub: AC Milan (1978-1997)
Karier timnas: Italia (1982-1994)
Prestasi: Juara Serie-A (1978-79, 1987-88, 1991-92, 1992-93, 1993-94, 1995-96), juara Piala Italia (1987-88, 1991-92, 1992-93, 1993-94), juara Liga Champions (1988-89, 1989-90, 1993-94), juara Piala Interkontinental (1989, 1990), juara Piala Super Eropa (1989, 1990, 1994)

Rekor-rekor Baresi
Gol di timnas: 1
Gol buat AC Milan: 12
Musim yang dijalani: 21
Jumlah pertandingan resmi: 716
Partai di Serie-A: 470
Partai di Serie-B: 61
Partai di Piala Italia: 97
Partai di timnas: 50
Partai di Liga Champions: 19
Partai di Piala Super Eropa: 6
Partai di Piala Interkontinental: 4
Partai di Mitropa Cup: 3
Partai di Piala Super Italia: 5
Partai di playoff UEFA: 1


Putra masalah

Franco Baresi


Tempat kelahiran Baresi di daerah Brescia bernama Travagliato. Dalam terjemahan bebas berarti “masalah”. Sebab itu, Baresi sering dinilai putra masalah. Bukan membawa masalah, tapi dia hidup dalam masalah yang cukup memprihatinkan.

Ketika masih 13 tahun, ibunya meninggal. Empat tahun kemudian ayahnya menyusul. Dia dan kakaknya yang juga pemain Inter Milan, Giuseppe Baresi, terpaksa merawat adik mereka, Lucia.

Itu pula sebabnya, Baresi sangat ingin menjadi pemain sepak bola untuk mengangkat derajat hidupnya. Selepas kematian ibunya, dia melamar ke tim junior Milan. Tapi, dia ditolak. Pada usaha keduanya, dia masih ditolak.

Meski begitu, dia tak putus asa. Ketika umurnya menginjak 14 tahun, Milan baru menerimanya. Keputusan tepat. Jika tidak, Milan pasti akan menyesal seumur-umur. Sebab, begitu masuk tim junior, Baresi langsung menonjol. Bahkan dia langsung menunjukkan sifat kepemimpinannya, selain menjadi pilar tim.

Empat tahun kemudian, tanpa ragu Milan langsung menariknya ke tim senior. Di musim pertamanya (1977-78), dia tampil gemilang. Setelah itu, dia selalu menjadi pemain utama. “Kerja keras dan dedikasi menjadi kunci utama untuk sukses,” demikian dia pernah berujar.

Anak yang tadinya hidup dalam kehidupan bermasalah dan di kota yang berarti masalah itu, akhirnya menyelesaikan masalah pertahanan di Milan. (*)

Read Full Post | Make a Comment ( None so far )

Nurdin Halid Beri Bonus Rp 400 Juta

Posted on April 13, 2010. Filed under: Olah Raga | Tags: , , , |

Timnas Futsal AFF-2010 Vietnam

JAKARTA, Timnas futsal Indonesia menerima bonus sebesar Rp 400 juta dari PSSI setelah merebut gelar juara AFF Futsal 2010.

Ketua Umum PSSI Nurdin Halid memberi apresiasi berupa bonus. Besarnya dua kali lipat dibanding yang mereka terima sewaktu meloloskan diri dari Pra-Piala Asia medio Februari lalu di Jakarta. “Saya sudah bicarakan dengan Pak Ferry Paulus selaku Ketua Komite Futsal, bonus yang diterima dua kali lipat dari yang pernah diterima sebelumnya,” kata Nurdin Halid kepada wartawan di Jakarta, Selasa.

Jika saat Pra-Piala Asia lalu Vennard Hutabarat dkk menerima bonus sebesar Rp 200 juta, maka bonus yang mereka terima kali ini adalah Rp 400 juta.

Timnas futsal Indonesia sendiri tiba di Jakarta pada Senin malam sekitar pukul 23.30 dengan membawa dua piala dari Kejuaraan Futsal ASEAN yang berlangsung 5-11 April di Stadium Phu Tho, Ho Chi Minh City, Vietnam. Indonesia juga merebut trofi Fair Play. Mereka tiba di Bandara Soekarno-Hatta, Cengkareng, serta disambut Ketua Umum PSSI Nurdin Halid dan jajaran pengurus PSSI lainnya.

Pada The AFF Futsal Championship 2010 ini, timnas futsal Indonesia berkekuatan 18 pemain dan 11 ofisial.
Selanjutnya, timnas futsal Indonesia akan tampil kembali di putaran final Kejuaraan Asia mendatang, 23-30 Mei, di Uzbekistan. Ketua umum berencana, timnas dapat melaksanakan uji coba di Rusia.

Sumber

Read Full Post | Make a Comment ( None so far )

Adidas’s Jabulani Bola resmi Piala Dunia 2010 Afrika Selatan

Posted on February 15, 2010. Filed under: Olah Raga | Tags: , , , , |

Adidas’s Jabulani Bola resmi Piala Dunia 2010 Afrika Selatan

Adidas Jabulani

Adidas Jabulani

Pada hari Final Draw untuk Piala Dunia FIFA 2010 Afrika Selatan ™, bola resmi untuk kompetisi PD 2010 Afrika Selatan telah diluncurkan. Yaitu Adidas Jabulani, yang berarti ‘untuk merayakan’ dalam IZulu, Bola ini adalah edisi 11 dari adidas untuk Piala Dunia FIFA.

ada 11 warna yang terdapat pada Jabulani melambangkan kehormatan baik untuk Sepak bola dan negara di Afrika yang pertama kalinya Piala Dunia FIFA akan diadakan. Mereka mewakili warna untuk setiap tim pemain, setiap bahasa resmi Afrika Selatan dan untuk masing-masing dari 11 komunitas Afrika Selatan yang akan menyambut dunia tahun depan. Desain merayakan dua aspek yang paling penting dari negara Afrika Selatan – keragaman dan harmoni – seperti prinsip-prinsip inilah yang membuatnya seperti bangsa berwarna-warni dan ramah.

Grip (cengkraman) dan Groove (alur)
Jabulani membawa beberapa kemajuan teknologi ke dalam dunia Sepak bola. Menjalankan tangan di atas bola, kesan pertama adalah tekstur grip dan groove, yang memungkinkan untuk kontrol yang maksimum, stabilitas pegangan yang melayang dan sempurna dalam segala kondisi.

Cengkeraman dan alur profil lingkaran yang berputar mengelilingi seluruh bola di jalan aerodinamis yang optimal dan terpadu alur penerbangan memberikan karakteristik yang tak tertandingi, membuat ini adalah bola yang paling stabil dan paling akurat yang adidas pernah ciptakan.

Minimal jahitan, lebih sempurna
Sebagai lawan dari flat-panel bingkai bola adidas sebelumnya, terdiri dari delapan termal Jabulani berikat panel 3D yang telah ada, untuk pertama kalinya, bola dibentuk sehingga membuat bentuk bola ini bulat sempurna dan lebih akurat daripada bola yang pernah ada sebelumnya.

“Menurut peraturan FIFA tentang rentang spesifikasi untuk bola, kami telah menciptakan sebuah bola yang kecil dan berat maksimum yang memungkinkan untuk akurasi, sempurna dan sangat stabil pada saay melayang,” kata Thomas Van Schaik, Kepala Hubungan Masyarakat Global Adidas.

Sejumlah pemain terbaik dunia merespon pernyataan Thomas. Frank Lampard berkomentar: “Itu bola yang sangat kuat, sangat tepat ketika ditendang.” Sementara itu pihak yang pernah merasakan bola ini dari Lampard,kiper Petr Cech berkata “Anda dapat merasakan energi yang datang ke arah Anda, seperti tembakan.”

Sejarah sepak bola
Dari waktu lampau Adidas muncul sebagai Telstar digunakan di Meksiko 1970, ini adalah pertama kalinya Piala Dunia FIFA menggunakan bola Adidas, adidas telah didedikasikan untuk mendorong teknologi sepakbola ke masa depan, selalu inovasi dan tidak pernah puas seperti biasa.

32 perbedaan kulit putih dan hitam dipanel yang terdiri dari Telstar menjadikannya bola terbulat pada masanya. Sementara itu Tango digunakan di Argentina 1978 begitu futuristik yang membentuk cetak biru untuk lima bola Piala Dunia FIFA. Tahun 2002 dan 2006 edisi Piala Dunia FIFA dalam sepak bola mengantarkan revolusi dalam hak mereka sendiri, adidas menunjukkan kemampuan untuk tetap di depan permainan, di dalam dunia teknologi mana yang berubah lebih cepat daripada sebelumnya.

Dari awal warna putih dan hitam 32 berpanel Telstar ke berpanel delapan karya yang sintetis adalah ‘Jabulani’, adidas mempertahankan standar yang sesuai dengan nilai inti mereka “tiada yang mustahil.”

Sumber

Read Full Post | Make a Comment ( None so far )

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...